GENERASI PENYESAL
| If the bridge is your heart, so the haze must be your ego. |
“Bu,
jalan dulu!” Seru Rama.
“Nak, mbo’ ya sarapannya
dimakan dulu”
Tanpa memberi kode apapun, perintah
ibunya itu tidak diacuhkan oleh Rama yang langsung pergi begitu saja untuk
menuju sekolah. Ibunda berdecak heran melihat tingkah anak bujangnya itu dari
depan teras.
Rama tak acuh, dan hanya memacu motor
besarnya dengan ngebut di ramainya jalanan pagi Kota Palangka Raya. Namun
alih-alih menuju ke sekolahnya, Rama justru membelokan motornya dan berhenti di
depan warung ‘Bu Mega’,
tempat
tongkrongan Rama dan teman-temannya berada.
Di sana mereka semua bermain game berbasis
telefon genggam –yang saat itu sedang ramai dimainkan
anak-anak muda– dan memakan cemilan apa saja yang ada di warung itu. Juga sambil mereka asyik berbincang tentang
hal-hal yang menyangkut dengan eksistensi dan dunia ‘per-tongkrong-an’ remaja, tanpa
ada rasa bersalah karena telah melewati jam pelajaran di kelas mereka.
Saat siang menjelang, Rama dan
teman-temannya merasa bosan berada di tempat itu sedari pagi. Namun jika ke
sekolah sekarang, sudah tanggung. Dan kalau pulang sekarang, pasti akan
ketahuan bahwa mereka membolos. Akhirnya keputusannya adalah mereka berpindah
haluan ke warung internet dan menghabisi waktu hari itu dengan bermain gim.
Setelahnya kegiatan itu semua barulah Rama pulang pada
pukul 5 sore. Meletakan tas ke sudut kamarnya, membuka seragam dan melemparnya
asal. Mendaratkan tubuhnya di atas kasur. Kemudian memainkan hpnya dengan polos,
tanpa mengacuhkan kamarnya yang sudah seperti bangkai kapal perang.
“Nak, tolong bantu ibu cuci piring
di dapur,” pinta ibunya, namun ditampik oleh Rama dengan dalih bahwa dia telah
lelah selepas berkegiatan sekolah hari ini, dan ditanggapi dengan maklum oleh
ibunya. Ibunya menyarankan Rama untuk beristirahat saja.
Akhirnya petang itu hanya dihabiskan
Rama untuk bermain ponselnya. Hingga
hari
menjelang malam, dia mendapati pesan ajakan dari temannya untuk ikut berkumpul
bersama kawan-kawan lainnya di suatu angkringan berdesain kafe. Rama mengiakan
ajakan dari temannya tersebut. Lalu
dengan
sigap dia langsung menuju kamar mandi, kemudian bersiap-siap untuk
berangkat.
Sebelum Rama berangkat, dia
berpamitan kepada orangtuanya bahwa dia akan pergi ke rumah temannya untuk
mengerjakan tugas kelompok. Ibunya bertanya kenapa malam sekali, “Bukannya kamu
capek tadi?”.
Namun
Rama beralasan bahwa karena tugas ini harus dikumpul besok.
“Kalau
lelah ya izin saja, jangan dipaksakan,” saran ibunda.
“Enggak
kok, sebentar saja.”
“Lihat
itu, langit mau hujan. Sudah di rumah saja, sini biar ibu yang bilang kepada
temanmu,” larang ibunda.
“Ah
ibu! Sebentar saja!” jawab Rama dengan nada yang ditinggikan.
Kalau
sudah seperti ini, mau tidak mau ibunya akan mengiakan keinginan anaknya itu,
“Asal jangan pulang terlalu lama,” tambah ibunya.
Yes,
dalam benak Rama. Dengan begitu kemudian dia bergegas mengeluarkan motornya dan
beranjak pergi. Ibunda heran mengapa Rama menjadi sedemikian anehnya sekarang. Padahal sejak kecil Rama adalah anak
yang penurut dan tidak pernah bertingkah berlebihan. Tapi sekarang sepertinya
banyak hal yang mengubah anak itu, mulai dari sikap, cara berbicara, dan
kebiasaan Rama yang sekarang. Rama yang telah berusia 16 tahun, Rama yang sekarang duduk di bangku
kelas 11.
Apa
kiranya yang membuat anaknya menjadi seperti itu. Membuat ibunda sedih karna
merasa kehilangan Rama, anak satu-satunya yang dimiliki ibunda. Bahkan
sekarang kamarnya saja tidak diperdulikan olehnya, batin ibunda sambil
memperhatikan kamar Rama yang berantakan, dan tentu saja sambil merapihkan
kamar itu. Ibunda lelah. dia kemudian tertidur di kamar itu dengan tak sadar
memegang foto kecil Rama.
Di
tempat lain, setengah perjalanan lebih sudah Rama berkendara. Namun kesialan
datang, seperti prediksi ibunya, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras.
Tapi Rama yang berpikir tujuannya sudah dekat, malah memacu motornya lebih
cepat lagi. Karena hal tersebut, Rama yang saat itu tidak mengenakan helm malah
tergelincir saat mencoba untuk menghindari lubang.
***
Lukanya tidak parah. Hanya
lecet yang sedikit besar di bagian siku, dengkul, dan beberapa bagian pada
kakinya. Mungkin hanya luka biasa untuk ukuran remaja laki-laki, dan tentu saja
Rama juga tidak peduli dengan itu. Tidak menyesal sama sekali dengan
perbuatannya.
Semenjak duduk di bangku SMA, Rama
selalu membenarkan perbuatannya dengan alasan bahwa anak lain di luar sana juga
melakukan hal yang sama seperti dirinya. Hal itu tidak bisa disalahkan. Saat
ini, invasi teknologi memang tidak bisa dibendung kepada remaja seusia Rama.
Mereka belum memiliki filter pikiran yang kuat untuk memilah, sedangkan
pergaulan mereka sudah sangat cepat terhubung.
Seminggu
setelah kecelakaan itu, Rama sudah aktifitas seperti hari-hari biasanya. Sudah
bisa bermain gim online bersama teman-temannya lagi. Dan ya, sama seperti
hari-hari sebelumnya, Rama lebih sering menghabiskan waktunya dengan
teman-temannya dibanding dengan ibunda
di rumah.
Sampai
pada suatu ketika, saat Rama berjalan ramai-ramai di Alun-Alun Kota saat acara Hari Bebas Kendaraan
sedang berlangsung. Di sana mereka semua asyik berjalan beramai-ramai sambil
tertawa, sampai salah seorang temannya -yang sedang berjalan mundur karena sedang mengobrol,- menabrak seorang lelaki paruh baya yang sedang
berjalan juga,
hingga terjatuh.
“Wah,
kalo di jalan jangan bengong dong, pak!” Sindir teman Rama yang menabrak bapak
tadi. Namun bapak itu tidak membalas apa-apa dan hanya beranjak pergi dengan
tubuh yang sudah setengah membungkuk.
“Hati-hati
jatuh lagi, pak!” Teriak salah seorang teman lain, dan disambut gelak tawa oleh
geromboloan teman-teman Rama yang lain, termasuk Rama sendiri. Sebenarnya dalam
hati kecilnya, Rama merasa apa yang mereka lakukan itu sudah kelewatan, namun perasaan
itu tertutup rasa keasikan oleh kelompoknya.
Hari
minggu itu akhirnya hanya Rama habiskan bersama temannya sejak pamit jam 6 pagi tadi. Bukannya
Rama tidak mau pulang barang sejenak saja, namun rasa nyaman teman sepermainan dan gengsi dengan perkataan ‘Ah, ga asik
lo, masa pulang ‘sih,’ itu yang membuat Rama tetap bersama kawan-kawannya.
Padahal apa yang mereka lakukan itu tidak terlalu penting untuk dilakukan,
namun begitulah anak muda sekarang, eksistensi di atas esensi.
Di
tempat dengan sebutan basecamp itu mereka berekspresi dengan begitu
bebasnya, tanpa ada larangan untuk melakukan apapun, dan intervensi apapun dari
orang dewasa. Tempat itu adalah semacam gudang terpisah yang dimiliki kawan
Rama, Teddy, yang
lokasinya berada seperti di tengah kebun. Di sana mereka ada yang bernyanyi
dengan gitar tua, ada yang bermain kartu, dan sebagian besar bermain gim di telefon genggam pastinya.
Sebetulnya
hingga sore itu Rama hanya mengantongi izin sampai jam 12 siang saja. Tapi
apa boleh buat, sudah terlanjur terjadi, batinnya acuh-tak acuh. Akhirnya Rama hanya menuliskan pesan
singkat, berisi “Bu, Rama pulang agak lama,” saja, yang setelah dikirimkannya pesan itu, Rama langsung
mematikan telefon genggamnya karena baterainya hampir habis.
Rama memang seperti itu. Dia
anak yang nekat. Daripada meminta izin tapi tidak diizinkan, dia akan lebih
memilih melakukannya dahulu, baru melaporkan itu setelahnya. ‘Toh akan
dimarah-marahi juga pada akhirnya jika dia melakukan hal tersebut, itu prinsip
Rama.
Kembali pada hari dimana
mereka berkumpul. Apa yang dilakukan mereka hanyalah bermain playstation
dan mengobrol ngalor-ngidul bersama. Dengan membuat kompetisi bola di playstation
membuat mereka tidak ingat waktu dan seakan dunia milik komplotan mereka saja.
“GOOOLL!!!!” teriak mereka
semua saat terjadi gol di partai final. Rama memenangkan kompetisi itu dan hari
itu mereka semua menggila sejadi-jadinya karena terlarut suasana senang. Bahkan
Rama sampai mengangkat sapu dan memeragakannya seakan-akan dia sedang
mengangkat piala kejuaraan dunia. Yang lain tertawa. Malam itu mereka merasa semesta
ini fana, yang nyata hanya jiwa mereka.
***
Kesenangan hari itu ternyata
hanya sementara. Pada pagi hari sebelum Rama menyadari bahwa dia dan
teman-teman tertidur di tempat itu, Rama mengalami mimpi buruk yang bahkan
membuatnya berkeringat basah pada sekujur tubuh. Pada mimpi buruk itu
menggambarkan bahwa Rama yang berada di padang pasir yang luas dan kering
sendirian. Sepi. Tidak bergizi. Lalu munculah serbuan kalajengking yang
mengepung posisi Rama. Kemudian dia terbangun dan merasa sangat ketakutan. Wajar
saja, kalajengking adalah hewan yang paling Rama takutkan.
Lalu setelah agak sedikit
tenang, Rama coba menyalakan telefon gengamnya. Ternyata ada dua hal yang Rama
sadari setelahnya. Pertama Rama menyadari bahwa sekarang sudah jam 5 pagi; Dan Rama
juga menyadari bahwa ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab sejak
semalam. Ada apa ini, kenapa ramai sekali, pikirnya. Dari notifikasi hp
Rama mengintip salah satu pesan dari tantenya, yang ternyata tertulis : “Rama
pulang sekarang. Ibu kamu meninggal.”
Prakk… telefon genggam Rama jatuh begitu saja meskipun dia
belum melihat pesan yang lainnya. Tanpa ada aba-aba, tiba-tiba hujan air mata
sudah membanjiri pipinya. Ratusan rasa sesal mengalir begitu saja di tubuhnya.
Hancur lebur pikiran di otaknya. Sebab tidak pernah terbayangkan sedetikpun
oleh Rama kalau dia akan ditinggal oleh orang tua satu-satunya yang masih dia
miliki, untuk selama-lamanya.
Apa yang akan Rama
lakukan sekarang? Dia sudah tidak bisa lagi hidup seperti hari-hari sebelumnya.
Penyesalan ini adalah bukti tuntutan bahwa dia harus menjadi orang yang lebih
baik dan lebih mandiri lagi kedepannya. Tidak bisa main-main lagi. Lalu apa?
Rama adalah cerminan dari
banyaknya remaja calon generasi penyesal di luar sana. Apakah eksistensi dan
duniawi akan membuat kalian bahagia selamanya? Coba pikirkan lagi. Jangan
sampai seperti Rama, yang senang sesaat, namun menyesal dikemudian karena
sikapnya yang larut dalam pergaulan.
Selesai
Tidak ada komentar: